Nusakabari.com —- Kota Bekasi ,.
Tragedi Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau Kudatuli merupakan salah satu catatan penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Bagi Ketua PAC PDI Perjuangan Bekasi Utara, peristiwa tersebut tidak semata-mata menjadi bagian dari sejarah politik, tetapi juga pengingat tentang pentingnya kebebasan berpendapat, berkumpul, dan berorganisasi secara terbuka serta damai.
Menurutnya, Kudatuli menjadi salah satu momentum yang memperlihatkan kuatnya perjuangan mempertahankan ruang demokrasi di tengah tekanan politik pada masa Orde Baru.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian sejarah yang turut membentuk semangat Reformasi dan perubahan politik di Indonesia.
Dalam konteks itu, keberanian Megawati Soekarnoputri mempertahankan kepemimpinannya di PDI menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah tersebut.
Sikap politik itu dinilai menunjukkan bahwa demokrasi tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang dan keberanian untuk mempertahankan prinsip.
“Kalau pada saat itu Ibu Megawati tidak mempertahankan kepemimpinannya dan tidak melawan tekanan politik Orde Baru, mungkin perjalanan demokrasi Indonesia akan berbeda.
Kebebasan berpendapat dan berorganisasi yang kita rasakan hari ini tidak boleh dianggap hadir begitu saja,” ujarnya.
Ia menilai, Kudatuli perlu terus dikenang secara proporsional, terutama oleh generasi muda. Bukan untuk membuka kembali luka lama, melainkan untuk memahami bagaimana demokrasi dan kebebasan sipil diperjuangkan.
“Penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah Indonesia. Dari Kudatuli, kita belajar bahwa kebebasan harus dijaga dan demokrasi harus dirawat. Jangan sampai peristiwa serupa terulang kembali,” katanya.
Bagi Ketua PAC PDI Perjuangan Bekasi Utara, mengenang Kudatuli berarti menjaga ingatan kolektif bangsa.
Sebab, sejarah tidak hanya berbicara tentang peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang tanggung jawab generasi hari ini untuk memastikan kebebasan dan demokrasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa.
Kudatuli, dengan demikian, bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah. Ia adalah pengingat bahwa demokrasi memiliki harga—dan kebebasan tidak boleh dibiarkan kehilangan ingatan tentang bagaimana ia diperjuangkan.








