Pasca-Lebaran 2026: Rebound IHSG Terganjal Krisis Selat Hormuz, Pasar Keuangan Hadapi Risiko Stagflasi

- Jurnalis

Senin, 30 Maret 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi

​Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi

Nusakabari.com — JAKARTA, 29 Maret 2026 – Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan pertama pasca-libur Lebaran (23–27 Maret 2026) menunjukkan pola volatilitas tinggi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sedang berada di bawah tekanan hebat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya blokade di Selat Hormuz.

​Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada level 7.097,057 pada Jumat (27/3), terkoreksi tipis 0,14% secara mingguan. Padahal, pada hari pertama perdagangan pasca-Lebaran (25/3), indeks sempat melonjak signifikan sebesar 2,75% ke posisi 7.302,12. Namun, aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun dalam sepekan kembali menarik indeks ke zona merah.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, memperingatkan risiko stagflasi di kuartal II-2026 akibat kenaikan harga minyak dan biaya logistik. “Rebound IHSG pasca-Lebaran cuma sementara, Indonesia hadapi perfect storm,” ujarnya.

​Di pasar valuta asing, Rupiah terus tertahan di level lemah pada rentang Rp16.850 – Rp16.997 per dolar AS. Tekanan ini terjadi seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia Brent yang sempat menyentuh US$112 per barel akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz, jalur yang memasok 20% kebutuhan minyak global.

Baca Juga :  Menuju Jaminan Kesehatan Menyeluruh, Wakil Wali Kota Bekasi Hadiri Pencanangan UHC Tahun 2026.

Selain itu ​Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, juga menilai bahwa kondisi pasar saat ini tidak lagi hanya dipengaruhi oleh sentimen musiman domestik, melainkan oleh supply shock nyata yang mengancam struktur APBN Indonesia.

​”Rebound IHSG pada 25 Maret lalu hanyalah euforia likuiditas domestik yang bersifat sementara. Realitas pahitnya adalah Indonesia sedang menghadapi perfect storm. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan atas ketegangan dengan AS-Israel telah memukul Indonesia tepat di titik lemahnya: ketergantungan pada impor BBM,” ujar Kusfiardi dalam keterangannya pada media.

​Kusfiardi menyoroti bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US1 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp10,3 triliun. Jika harga minyak Brent bertahan di atas US100 dalam jangka panjang, defisit anggaran dikhawatirkan melampaui batas aman 3% PDB.

​Lebih lanjut, Kusfiardi memperingatkan adanya risiko stagflasi di kuartal II-2026, indikasinya ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi merangkak naik akibat biaya logistik dan energi yang membengkak. “Langkah Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% adalah upaya defensif yang digunakan untuk menjaga stabilitas Rupiah, namun ruang untuk pelonggaran moneter kini tertutup. Jika krisis Hormuz berkepanjangan hingga pertengahan tahun, investor harus bersiap menghadapi koreksi tambahan pada IHSG sebesar 8% hingga 15%,” tambahnya.

Baca Juga :  Dialog Bersama Warga Jakasampurna, Kapolsek Bekasi Barat Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

​Menghadapi ketidakpastian global ini, menurut Kusfiardi para pelaku pasar masih akan menerapkan strategi ultra-defensif, dengan tindakan antara lain, pertama, Selektivitas Sektor untuk tujuan menghindari sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan suku bunga, seperti properti dan otomotif.

Kedua, Fokus pada Likuiditas dengan mengalihkan eksposur ke saham-saham perbankan besar (Big Caps) yang memiliki fundamental kuat dan sektor telekomunikasi yang lebih tahan banting terhadap gejolak komoditas.

Ketiga, Instrumen Lindung Nilai dengan mempertimbangkan aset aman seperti emas sebagai pelindung nilai terhadap volatilitas nilai tukar.

​Fundamental ekonomi Indonesia memang masih terjaga dengan pertumbuhan di kisaran 5%, namun arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada respons diplomasi internasional di Selat Hormuz dan keberanian pemerintah dalam menata ulang ruang fiskal di tengah melonjaknya harga energi dunia.

Yus

Berita Terkait

Kudatuli dan Jejak Demokrasi: Harga Kebebasan yang Tak Boleh Dilupakan
H. Sudjatmiko S. T,. Menyiapkan Tangan-Tangan Terampil di Balik Rumah Layak Kota Bekasi
PWI Jabar Matangkan Konferprov 2026, Sosialisasi Tahap I Tekankan Transparansi dan Demokrasi
Samuel Sitompul : Dari Gotong Royong ke Konsolidasi, PBB Kota Bekasi Menatap Babak Baru
Muslim Tampubolon Nahkodai PBB Kota Bekasi, Sinergi Lintas Ormas Diperkuat
Saat Deteksi Dini Menjadi Barometer Kesehatan Warga Bekasi
Akta Cerai Tak Tercatat di Pengadilan Agama, Data Keluarga HO Terlanjur Terpecah
Daya Beli Dijaga, UMKM Digerakkan, Warga Disatukan di Bekasi Selatan

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 22:17 WIB

Kudatuli dan Jejak Demokrasi: Harga Kebebasan yang Tak Boleh Dilupakan

Senin, 27 Juli 2026 - 19:33 WIB

H. Sudjatmiko S. T,. Menyiapkan Tangan-Tangan Terampil di Balik Rumah Layak Kota Bekasi

Senin, 27 Juli 2026 - 06:51 WIB

PWI Jabar Matangkan Konferprov 2026, Sosialisasi Tahap I Tekankan Transparansi dan Demokrasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:07 WIB

Samuel Sitompul : Dari Gotong Royong ke Konsolidasi, PBB Kota Bekasi Menatap Babak Baru

Minggu, 26 Juli 2026 - 17:19 WIB

Muslim Tampubolon Nahkodai PBB Kota Bekasi, Sinergi Lintas Ormas Diperkuat

Berita Terbaru